Aborsi Pada Sapi Laktasi dan Dara Bunting
Dairy Integrated Reproductive Management
Dr. R.A. Dailey
West Virginia University
General Information
Aborsi adalah keluarnya janin sebelum masa akhir kehamilan. Pada tahap awal setelah terjadinya pembuahan, abortus tida terjadi kecuali terjadi perpanjangan siklus estrous. Selain Deteksi berahi yang akurat, panjangnya siklus adalah diagnosa abortus yang sangat lemah. Abortus selanjutnya dapat diidentifikasi dengan memperhatikan janin yang terkeluar dan atau janin yang tidak terdeteksi kandungannya. Beberapa kejadian abortus dapat penyerapan dan mumifikasi janin dan hanya dapat didiagnosis dengan tindakan palpasi.
Abortus spontan terjadi dalam 2 sampai 5% dari seluruh kejadian kehamilan. Dalam sebuah survei dari 83 ekor ternak laktasi di Virginia barat, rata-rata abortus sebesar 2,9% setiap tahun. Namun, kejadian berkisar antara 0 - 19% dalam sebuah kelompok ternak, menunjukkan bahwa beberapa petani mempunyai masalah kesehatan atau menyimpan data.
Untuk mengetahui jika telah terjadi keguguran, ternak sapi harus dikonfirmasi telah bunting sebelumnya. Konsentrasi progesterone pada 22-25 hari setelah pembuahan digunakan untuk memperkirakan kehamilan. Palpasi rectal pada 35-40 hari setelah
pembuahan merupakan indicator kebuntingan. Perbedaan antara jumlah sapi didiagnosis hamil dengan level progesterone dan palpasi adalah perkiraan keguguran.
Menggunakan metode ini, berbagai laporan penelitian rata-rata sekitar 10% kasus keguguran. Metode lama dimana perbedaan antara tingkat pembuahan dan kehamilan masih digunakan, prakiraan keguguran sebesar 15%. Rata-rata keguguran selama 40 hari rata-rata 3%. Total nilai keguguran sekitar 18%.
Pencegahan
Penyebab abortus cukup banyak, namun sebagian besar permasalahan adalah karena pengawasan. Douching, pemasukan atau inseminasi ternak sapi bunting dapt menyebabkan keguguran, seperti penanganan yang kasar. Pengangkatan corpus Iuteum secara manual atau suntikan prostaglandin F2α glucocorticoids atau estrogen juga menyebabkan abortus. Jangan gunakan bahan pakan dengan kandungan estrogen tinggi seperti kacang polong, terutama alfalfa. Pencegahan lain, masalah kurang gizi dan proses penelanan makanan, racun bahan kimia (arsenic, nitrates) atau tanaman beracun.
Hal yang paling sering terjadi, aborsi karena wabah penyakit (Tabel 1). Suntikan pencegahan terhadap ternak betina (Brucellosis, Leptospirosis, Vibriosis, Diare, dan infeksi Rhinotracheitis).
Lakukan inseminasi untuk mencegah penyakit dari vibriosis dan trichomoniasis akibat perkawinan alam dengan sapi jantan terinfeksi. Serangga vektor atau jarum yang tidak steril dan peralatan dehorning yang mengirim penyakit protozoa, anaplasmosis, yang akan menghancurkan sel darah merah. Desinfektan hama dan alat kontrol serangga untuk mengurangi kasus abortus.
Ekonomi
- Kehilangan pedet
- Kehilangan heifer atau induk pengganti
- Kehilangan biaya pakan/hari
Penyebab Abortus
|
Asal |
Penyakit |
Simptoma |
Pembawa |
Pencegahan |
|
Bakteri |
Brucellosis |
· Abortus setelah umur kebuntingan 4 bulan · Retensi placenta |
· Pencernaan · Perkawinan · Pelukaan pada kulit
|
· Vaksinasi pedet · Pengujian dan pemotongan · Pemisahan ternak baru · sanitasi |
|
|
Leptospirosis |
Abortus setelah umur kebuntingan 6 bulan |
· Pencernaan · Mukosa membran · Pernapasan · Gangguan hewan liar |
· Vaksinasi · Pemusnahan carrier penyakit · Jauhkan dari ternak babi |
|
|
Listeriosis |
· Abortus setelah umur kebuntingan 6 bulan · Tidak lazim |
· Ternak baru · Silase · Stress |
· pemisahan ternak baru · penghentian pemberian silase · sanitasi |
|
|
Vibriosis |
· Abortus setelah umur kebuntingan 6 bulan · Terjadi waktu siklus yang panjang |
Perkawinan |
· Inseminasi Buatan · Pejantan tidak tertular untuk Induk yang tidak tertular |
|
Virus |
BVC (Bovine Viral Diarrehea) |
· Abortus · Demam · Erosi pada mulut dan gusi · Diare |
· Kontak langsung dengan ternak berpenyakit · Pakan · Air |
· Sanitasi · Vaksinasi
|
|
|
IBR (Infectious Bovine Rhinotracheitis) |
· Abortus setelah umur kebuntingan 6 bulan · Deman · Pilek · Rotasi pada mata · Pelukaan di vagina · Pelukaan di alat kelamin jantan |
· Kontak langsung · Perkawinan · Urine dan cairan tubuh |
Penyemprotan vaksin pada daerah hidung |
|
Protozoa |
Trichomoniasis |
· Siklus berahi yang panjang · Abortus setelah umur kebuntingan 1 – 4 bulan
|
Perkawinan |
· Inseminasi Buatan · Pejantan tidak tertular untuk Induk yang tidak tertular · Culling untuk pejantan yang tertular |
|
Asal |
Penyakit |
Simptoma |
Pembawa |
Pencegahan |
|
Jamur |
Mycotic Abortion |
· Terjadi Nekrosi pada cotyledon · Lecet pada janin yang abortus · Abortus pada umur kebuntingan 5 – 7 bulan |
Pencernaan (?) |
Penghilangan bahan pakan yang terkena jamur |
Pada kejadian abortus pada mas kebuntingan tua, situasi akan menjadi sangat komplkeks. Tidak hanya permasalahan abortus pada umur kebuntingan tua, tetapi akan mengikuti permasalahan medis dan peningkatan penngeluaran biaya pengobatan serta masa pemulihan yang lama. Ternak laktasi yang mengalami kejadian ini sebaiknya dilakukan langsung proses pengeringan. Pengulangan inseminasi tidak disarankan.
- Calving interval akan meningkat diatas 18 bulan
- Periode laktasi berikutnya akan menurunkan jumlah produksi
- Perlu dilakukan perawatan intensif
- Ternak dimungkinkan akan menjadi carrier penyakit bagi ternak lain
Diagnosa
Saat terjadi kasus abortus, perlu dilakukan uji sampling untuk mendapatkan uji laboratorium. Letakkan fetus dan placenta pada kantong plastic. Gunakan sarung tangan sekali pakai untuk mencegah terjadinya kontaminasi, pada beberapa kasus, Brucellosis menyebabkan demam pada manusia. Ambil contoh darah saat kejadian abortus dan 2 – 3 minggu kemudian
Summary
Abortus berarti pembiayaan yang mahal dan harus ditekan semaksimal mungkin. Sanitasi yang baik, pakan, inseminasi buatan atau penggunaan pejantan yang sehat dan program vaksinasi untuk mengurangi kejadian dan akan meningkatkan keuntungan.
