Acetonaemia (Ketosis) Pada Ternak Laktasi
Nicky Stone, Ballarat
Updated: July 2007
AG0210
ISSN 1329-8062
© State of Victoria, Department of Primary Industries
A very distinct problem for dairy cows is the disease of ketosis (or acetonaemia). The occurrence of this disease in dairy cows is related to an increased demand for glucose by the animal. Ketosis also occurs in other animals and the problem is known by various names, eg, regnancy toxaemia in ewes.
Kejadian ketosis terjadi pada ternak sapi laktasi atau sapi dengan kondisi nutrisi buruk. Tanda-tanda penyakit dapat dilihat sebelum melahirkan anak sapi, tetapi paling sering terjadi di bulan pertama setelah melahirkan anak sapi dan kadang-kadang di
bulan kedua. Dalam ternak berkelompok, ketosis terjadi secara sporadis hanya pada ternak yang terjangkit, atau endemik dengan banyak sapi yang terjangkit.
Penyebab Ketosis
Penyakit ini merupakan perpanjangan dari proses metabolisme normal yang terjadi pada ternak sapi laktasi. Ketosis adalah masalah kekurangan glukosa (atau gula) dalam darah dan jaringan tubuh. Glukosa dihasilkan oleh sapi dari karbohidrat yang merupakan komponen utama padang gembala dan tambahan lain yang terdapat pada pakan. Pada masa bunting tua, glukosa digunakan untuk fungsi ideal tubuh dan perkembangan pedet. Saat masa laktasi, glukosa berperan dalam pembentukan lactose (gula susu) dan lemak susu. Penggunaan glukosa yang tinggi akan menyebabkan kondisi gula dalam darah akan menurun. Lima puluh gram glukosa diperlukan untuk pembentukan setiap liter susu dengan 4,8% laktosa dan 30 gram untuk setiap liter susu dengan 4% kandungan lemak. Ternak sapi (ruminants dan lainnya) tidak dapat diberi pakan glukosa, dalam bentuk karbohidrat yang akan diurai dalam rumen menjadi glukosa. Jika jumlah karbohidrat dalam pakan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam susu sapi, maka akan hati akan membentuk glukosa dari bahan lain - lemak cadangan. Sayangnya peningkatan produksi oleh hati akan menimbulkan hasil lain yang disebut dengan badan Ketone. Kemudian bersama dengan kurangnya level gula darah, menyebabkan tanda-tanda penyakit.
Ketosis utama, seperti yang dijelaskan, terjadi ketika produksi tinggi
sapi tidak hanya dapat makan karbohidrat cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, atau di mana pakan yang dberikan memiliki kandungan karbohidrat yang kurang. Ketosis sekunder dapat juga terjadi jika penyebab penyakit yang membuncah di pencernaan atau
metabolisme dari karbohidrat oleh sapi. Hal ini dapat terjadi meskipun jumlah karbohidrat dimakan terlihat cukup untuk fungsi tubuh normal. Penyakit utama yang terjadi selain ketosis adalah kelainan dari keempat perut, radang selaput, radang kelenjar dada, metritis, milk fever dan kurangnya nafsu makan sapi dalam waktu yang cukup panjang.
Tanda-tanda
- kurang nafsu makan
- produksi susu turun
- sering menggoyangkan kaki/kepala
- nafas ternak berbau
- pemulihan akan sangat lama dan bila kembali sehat, tidak akan seperti sedia kala
Akibat yang ditimbulkan
- kebutaan
- tulang keropos
- gerakan aneh pada lidah
- perubahan pada kulit
- melakukan hentakan-hentakan untuk sesuatu yang tidak jelas
Diagnosa penyakit
- tanda terserang ketosis baru dapat diketahui pada saat ternak akan mendekati puncak produksi
- tetapi pengamatan pada gangguan sekunder dapat digunakan, seperti : radang kelenjar dada
Perawatan
- tujuan awal perawatan adalah pengembalian kekurangan glukosa dalam tubuh.
- Pemberian suplemen glukosa melalui intra vena
- Pemberian Propylene glycol atau gliserin per oral selama dua empat hari.
- therapy hormonal dengan corticosteroids yang diimbangi dengan pemberian pakan berkarbohidrat tinggi
- pencegahan ketosis adalah hal yang sangat penting, melalui perbaikan pakan dan manajemen yang memadai
- pemberian makanan tambahan dengan kandungan karbohidrat tinggi sangat penting dengan pemberian bahan pakan berkualitas tinggi, seperti : silage, biji-bijian atau gandum.
- Kondisi tubuh sapi adalah saat melahirkan pedet harus mendapat asupan nutrisi yang baik. Begitu pula setelah melahirkan, sapi yang memiliki potensi untuk mencapai produksi maksimum, harus mendapat asupan pakan dengan kandungan energy yang tinggi. Melalui pemberian suplemen energi yang diperlukan
- Pemberian pakan kualita baik setidaknya terus menerus diberikan sampai
puncak laktasi tercapai. Program pencegahan yang terbaik adlah pemberian Propylene glycol per oral segera setelah melahirkan anak sapi
Penulis asli ini adalah Dr George Miller, dan versi sebelumnya dimuat di September 1998.
Penyakit Pedet
George Miller, Ellinbank
© State of Victoria, Department of Primary Industries
Semua anak sapi yang terkena berbagai mikro-organisme seperti virus, bakteri dan protozoa setelah mereka dilahirkan. Mikro-organisme ini adalah bagian dari lingkungan hidup ternak sapi dan harus member imunitas kepada pedet.
Menjaga pedet tetap sehat, harus memastikan pemberian colostrum dalam kurun waktu 6-8 jam lahir, memiliki akses ke tempat penampungan dan mendapat pakan.
Kedua jenis masalah utama dilihat pada anak sapi adalah:
• radang usus yang menyebabkan diare
• radang paru-paru
Kedua masalah tersebut berkonstribusi 80% permasalahan dalam penanganan kelahiran pedet. dengan penyakit diare yang paling umum. Gembung, sakit pada pusar, kecelakaan dan keracunan sebagai masalah lainnya.
radang usus yang menyebabkan diare
penyebab utama :
• E. coli (putih scours)
• Salmonella
• Rotavirus
• Cryptosporidia
Permasalahan ini dapat terjadi bersama-sama atau sendiri-sendiri.
Gejala-gejala yang terlihat :
- diare
- bulu kering
- pedet terlihat lesu
- beberapa kasus menyebabkan pedet mati dalam keadaan cepat
Diare disebabkan karena perubahan fungsi usus, karena serangan mikroorganisme yang menyebabkan usus berhenti mencerna, yang meningkatkan jumlah feses dan cairan ada ternak yang mati.
Pedet yang diberi pakan susu biasanya hanya mengeluarkan sedikit kotoran. Jika usus terkena masalah bakteri/mikroorganisme, maka jumlah kotoran akan meningkat secara signifikan. Misalnya, dapat menyebabkan 20 kali diatas normal. Cairan ini akan bercampur dengan garam dan bahan pakan lain sehingga pedet akan kehilanga lebih banyak dari apa yang dia makan. Hilangnya air dan garam akan menyebabkan dehidrasi. Hal inilah yang sangat mendadak dan dapat menyebabkan kematian. Dengan kata lain, kuman yang memulai menyerang alt cerna, biasanya tidak langsung penyebab kematian. Dehidrasi dan kehilangan garam sebenarnya adalah penyebab kematian.
E. coli atau berak putih. Mikroorganisme ini akan memproduksi racun yang membuat cairan berada dalam jumlah lebih banyak dari biasanya. Hal ini menyebabkan kejadian seperti diatas. Pada bedah mayat, yang sapi yang mati dari E. coli tidak menunjukkan tanda-tanda mempunyai infeksi.
Salmonella. Ini menyebabkan menjadi kotoran berwarna merah karena invasi pada dinding usus yang masuk ke jaringan, sehingga air dan makanan tidak dapat diserap. Salmonella yang menyerang akan menyebabkan keracunan darah dan kematian.
Rotavirus dan Cryptosporidia. Biasanya bila pedet mengkonsumsi air susu yang masam. Mikroorganisme yang biasanya ada di usus akan meningkat pesat dalam susu asam ini, menghasilkan racun, sehingga usus bekerja lebih cepat dan menyebabkan diare. Air
dalam makanan juga akan hilang.
Pencegahan diare
• Menyediakan colostrum yang cukup dalam beberapa jam pertama setelah lahir. Beberapa jam pertama setelah lahir, pedet dapat menyerap antibodi dari colostrumuntuk member imunitas dan mencegah infeksi. Diperlukan sekitar dua liter colostrum susu. Pada beberapa kasus Induk tidak memiliki cukup antibody dalam kolostrumnya untuk memberi perlindungan kepada pedet mereka.
Colostrum yang dibekukan akan sangat berperan dalam kejadian ini.
• Sediakan lokasi yang teduh dari cuaca dingin untuk menghindari stress. Kejadian stress sangat penting untuk memungkinkan kejadian diare.
• Manajemen dan pemberian pakan yang baik. Pemberian pakan yang terlalu banyak dan perubahan komposisi pakan dapat menyebabkan stres.
Perawatan diare
• Gunakan elektrolit dalam konsentrasi yang tepat
• Gunakan antibiotic bila diperlukan
Program perawatan :
a) Ganti semua susu dengan elektrolit.
b) Gunakan antibiotik jika perlu (saran pada dokter hewan)
c) Secara bertahap ganti elektrolit dengan susu selama beberapa hari.
Jika kejadian diare masih berlanjut, pedet perlu diinfus dengan cairan intravena. Memaksakan makanan akan menyebabkan radang paru-paru, karena saat pedet sakit, mereka tidak dapat menelan sebagaimana mestinya.
Pastikan anak sapi berada dalam keadaan hangat dan kering. Cuaca yang buruk akan melakukan hal-hal buruk.
Radang paru-paru
Radang paru-paru adalah infeksi paru-paru dan telah menyebabkan banyak kematian. Cacing paru-paru merupakan penyebab dengan menginfeksi paru-paru. Pedet yang dapat bertahan radang paru-paru, memerlukan waktu lama untuk sembuh. Biasanya akan terjadi gangguan pertumbuhan dan produktifitas yang rendah saat telah mulai berproduksi.
Pencegahan paling penting adalah penyediaan lokasi pemeliharaan dan sirkulasi yang baik. Stres yang disebabkan karena cuaca dingin, kondisi basah, dan pakan yang berlebihan dapat menyebabkan radang paru-paru.
Acetonaemia (Ketosis) of Dairy Cows
Nicky Stone, Ballarat
Updated: July 2007
AG0210
ISSN 1329-8062
© State of Victoria, Department of Primary Industries
A very distinct problem for dairy cows is the disease of ketosis (or acetonaemia). The occurrence of this disease in dairy cows is related to an increased demand for glucose by the animal. Ketosis also occurs in other animals and the problem is known by various names, eg, regnancy toxaemia in ewes.
Most commonly, ketosis is seen either in high producing cows or cows on a poor diet. Signs of the disease can be seen before calving, but they occur most commonly in the first month after calving and occasionally in the second month. In a herd, ketosis can either be sporadic with only individuals affected, or endemic with many cows affected over a period.
Cause
The disease is an extension of a normal metabolic process that occurs in most heavily producing dairy cows. The basic problem in ketosis is a deficiency of glucose (or sugar) in the blood and body tissues. Glucose is produced by the cow from carbohydrates which are a major constituent of pastures and other supplementary feeds in varying degrees.
In late pregnancy, glucose is directed from normal bodily functions to the nutrition of the developing calf. As lactation starts, glucose is essential for the formation of lactose (milk sugar) and milk fat. The requirement for glucose is at such high levels that the blood becomes low in glucose (hypoglycaemia). Fifty grams of glucose is required for each litre of milk with a 4.8% lactose test and 30 grams for each litre of milk with a 4% fat test. Cows (and other ruminants) cannot be fed glucose in their diet; it has to be made in the rumen from suitable carbohydrates in the diet.
If the amount of suitable carbohydrate in the diet is not enough to meet the glucose needs of the cow in full milk, the liver starts to manufacture glucose from other basic compounds in the body – usually fat reserves.
Unfortunately the increased production by the liver also gives rise to undesirable by-products called ketones. These, together with the lack of blood sugar, cause the signs seen with the disease.
Primary ketosis, as described, occurs when high producing cows simply cannot eat enough carbohydrate to satisfy their glucose needs, or where the feed available is somewhat deficient in carbohydrate.
A secondary ketosis can also occur when a primary problem or disease causes an upset in the digestion or metabolism of carbohydrate by the cow. This can occur even though the amount of carbohydrate eaten seems adequate for normal body functions. The primary diseases involved in this type of ketosis include displacement of the fourth stomach, peritonitis, mastitis, metritis, milk fever, or any problem reducing the cow’s appetite for a length of time.
Signs
The two major forms of ketosis occurring in dairy cattle are the wasting and nervous forms. The wasting form is much more common.
1) Wasting form of ketosis
Initially there may be a gradual decline in appetite over two to five days. Often the appetite is lost in an unusual manner and the cow may eat grass and hay but will not eat grain or silage. The appetite may appear depraved, with cows eating any objects, including dirt and stones.
Consequently, milk yield falls quickly to a fraction of its initial level, but never ceases completely. By this stage the affected animal is obviously ill and is disinclined to move, may be staggery or unsteady on its legs, and the head is often carried low to the ground.
Temperature, pulse, and respiration rates of the cow remain fairly normal as the animal loses weight. The coat is described as having a “woody” appearance, presumably due to the loss of fat reserves under the skin.
The ketones produced by the cow in this disease have a characteristic sweet “sickly” smell, which may be detected on the cow’s breath and less commonly in milk samples.
Very few affected animals die but, without treatment, recovery is slow with milk yields gradually improving over one month but never fully returning to normal levels.
This form can be very mild, the only clue to its presence being a small reduction in milk production.
2) Nervous form of ketosis
This form of ketosis is less common. In typical cases the signs are quite striking. Affected cows can show a range of signs including apparent blindness, aimless wandering, and strange movements of the tongue leading to incessant licking of the skin. Affected cows may also walk in circles and bellow loudly for no apparent reason. These kinds of behaviour can last for one or two hours, with the signs starting more suddenly than the wasting form of the disease.
Diagnosis of the disease
The typical signs, with a history of the affected animal having recently calved or nearing peak lactation, are usually sufficient to make a diagnosis of primary ketosis. Secondary ketosis must be suspected where there is a lack of response to treatment, or where the signs seen are not typical of primary ketosis. In this case the underlying cause, for example mastitis, must be diagnosed and treated accordingly.
Biochemical tests can be performed on urine, milk, or blood to detect the presence of ketones. Testing is available from veterinarians.
Treatment
The initial aim of treatment is to restore the lack of glucose in the body. A quick-acting glucose supplement is required immediately. Follow-up treatment is aimed at providing a
long term supply of glucose.
a) Glucose replacement
1. Intravenous administration of a dextrose solution by a veterinarian is effective in the short term, but follow-up treatment is essential if relapses are to be avoided.
2. Drenching with propylene glycol or glycerine has longer term effects. It also has the benefit of ease of administration. Treatment should be continued for two to four days. Several commercial compounds contain propylene glycol and glycerine
b) Hormonal therapy
Many of the long-acting corticosteroids have beneficial effects in ketosis. They are administered by the veterinarian as a single injection. Corticosteroids have the ability to break down protein in muscles to produce glucose, which immediately eplenishes the depressed blood glucose levels.
When using corticosteroids, it is important to supply an adequate amount of glucose either as a high carbohydrate diet and/or propylene glycol drenches to prevent excessive breakdown of muscle protein.
Control
It is important to prevent ketosis from occurring, rather than treating cases as they appear.
Prevention depends on adequate feeding and management practices.
In times of feed deficiency because of drought or other reasons, the provision of supplementary feed with adequate amounts of carbohydrate is essential. The best
feeds tend to be good quality hay, silage, or cereal grain.
The body condition of the dairy cow is important at calving. Cows should be on a rising plane of nutrition up to calving with the aim to calve in good condition (at least score 5 on the Ellinbank Condition Scoring System).
After calving, the cow has the potential to reach maximum efficiency in milk production, but feed requirements for high production are often greater than the voluntary intake of pasture can provide.
Therefore an energy supplement is required and there is evidence that this will improve production and reproductive performance, and decrease the risk of ketosis.
The best supplements are good quality hay, silage, or cereal grains. Supplements should be fed at least until the peak of lactation is reached or longer depending on the quality and quantity of available pasture.
Occasionally, very high-producing cows will be susceptible to ketosis every year. In these cases a preventive drenching program of propylene glycol immediately after calving may avert ketosis in individual problem cows.
Acknowledgement
The original author of this Information Note was Dr George Miller, and the previous version was published in September 1998.
The advice provided in this publication is intended as a source of information only. Always read the label before using any of the products mentioned. The State of Victoria and its employees do not guarantee that the publication is without flaw of any kind or is wholly appropriate for your particular purposes and therefore disclaims all liability for any error, loss or other consequence which may arise from you relying on any information in this publication.
